Tuesday, 26 May 2015

MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA



BAHAN AJAR
Usaha pengurangan resiko bencana alam

A.    Pengertian Mitigasi dan Adaptasi Penanggulangan Bencana Alam
1.      Pengertian Mitigasi Bencana
Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, mitigasi bencana didefinisikan sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
Ada 2 bentuk mitigasi bencana, yaitu mitigasi struktural dan mitigasi nonstruktural.
1)      Mitigasi struktural adalah upaya mengurangi resiko bencana dengan cara antara lain membuat waduk, chek dam, atau tanggul sungai untuk mencegah banjir, menanami pantai dengan mangrove untuk mengurangi resiko bencana tsunami.
2)      Mitigasi non-struktural adalah upaya mengurangi resiko bencana dengan cara membuat peraturan perundang-undangan, seperti undang-undang tata ruang, pelatihan bencana, dan lain-lain.
Beberapa tujuan utama mitigasi bencana alam yaitu:
a)      Mengurangi resiko bencana bagi penduduk dalam bentuk korban jiwa, kerugian ekonomi dan kerusakan sumber daya alam.
b)      Menjadi landasan perencanaan pembangunan
c)      Meningkatkan kepedulian masyarakat untuk menghadapi serta mengurangi dampak dan resiko bencana sehingga masyarakat dapat hidup aman.
Untuk melakukan penanggulangan bencana, diperlukan informasi sebagai dasar perencanaan penanganan bencana yang meliputi:
1.      Lokasi dan kondisi geografis wilayah bencana serta perkiraan jumlah penduduk yang terkena bencana
2.      Jalur transportasi dan sistem telekomunikasi
3.      Ketersediaan air bersih, bahan makanan, fasilitas sanitasi, tempat penampungan dan jumlah korban
4.      Tingkat kerusakan, ketersediaan obat obatan, peralatan medisserta tenaga kesehatan
5.      Lokasi pengungsian dan jumlah penduduk yang mengungsi
6.      Perkiraan jumlah korban yang meninggal dan hilang
7.      Ketersediaan relawan dalam berbagai bidang keahlian
Siklus  manajemen bencana terdiri dari empat fase. Tiap fase tersebut saling melengkapi dan tumpang tindih. Keempat fase tersebut adalah:
a.       Mitigasi
Merupakan upaya meminimalkan dampak bencana. Fase ini umumnya terjadi bersamaan dengan fase pemulihan dari bencana sebelumnya. Seluruh kegiatan pada fase mitigasi ditujukan agar dampak dari bencana yang serupa tidak terulang.
b.      Kesiap-siagaan
Merupakan perencanaan terhadap cara merespons kejadian bencana. Dalam fase ini perencanaan yang dibuat oleh lembaga penanggulangan bencana tidak hanya berkisar pada bencana yang pernah terjadi pada masa lalu, tetapi juga untuk berbagai jenis bencana lain yang mungkin terjadi.
c.       Respon
Merupakan upaya meminimalkan bahaya yang diakibatkan oleh terjadinya bencana. Fase ini berlangsung sesaat setelah terjadi bencana dan dimulai dengan mengumumkan kejadian bencana serta mengungsikan masyarakat.
d.      Pemulihan
Merupakan upaya pengembalian kondisi masyarakat sehingga menjadi seperti semula. Pada fase ini pekerjaan utama yang dilakukan masyarakat dan petugas adalah menyediakan tempat tinggal sementara bagi korban bencana dan membangun kembali sarana dan prasarana yang rusak. Selama masa pemulihan ini, dilakukan pula evakuasi terhadap langkah-langkah penanganan bencana yang telah dilakukan.

2.      Adaptasi Penanggulangan Bencana Alam
Adaptasi bencana adalah penyesuaian sistem alam dan manusia terhadap stimulus bencana alam nyata atau yang diharapkan tidak ada dampak-dampaknya, yang menyebabkan kerugian atau mengeksploitasi kesempatan-kesempatan yang memberi manfaat.
Adapatsi bencana alam perlu dilakukan mengingat adanya ancaman-ancaman bencana alam yang membahayakan manusia seperti:
1.      Ancaman alamiah
Proses atau fenomena alam berupa tanah longsor, tanah bergerak yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa, cidera atau dampak-dampak kesehatan lain, kerusakan harta benda, hilangnya penghidupan dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan lingkungan.
2.      Ancaman biologis
Proses atau fenomena bersifat organik atau yang dinyatakan oleh vektor-vektor biologis termasuk keterpaparan terhadap mikroorganisme yang bersifat patogen, toksin dan bahan-bahan bioaktif yang bisa menghilangkan nyawa, cidera, sakit atau dampak-dampak kesehatan lainnya kerusakan harta benda, hilangnya penghidupan dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan lingkungan.
3.      Ancaman geologis
Proses atau fenomena geologis berupa gempa bumi dan gunung meletus bisa mengakibatkan hilangnya nyawa, cidera atau dampak-dampak kesehatan lain, kerusakan harta benda, hilangnya penghidupan dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan lingkungan.
4.      Ancaman hidrometeorologis
Proses atau fenomena yang bersifat atmosferik, hidrologis atau oseanografis berupa pemanasan global dan tsunami yang bisa mengakibatkan hilangnya nyawa, cidera atau dampak-dampak kesehatan lain, kerusakan harta benda, hilangnya penghidupan dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan lingkungan.
5.      Ancaman sosial-alami
Fenomena meningkatnya kejadian peristiwa-peristiwa ancaman bahaya geofisik dan hidrometeorologis tertentu seperti tanah longsor, banjir, dan kekeringan, yang disebabkan oleh interaksi antara ancaman bahaya alam dengan sumber daya lahan dan lingkungan yang dimanfaatkan secara berlebihan atau rusak
Hal-hal penting dalam adaptasi dan ancaman bencana alam adalah:
-          Kesadaran publik
-          Kesiapsiagaan
-          Ketangguhan/tangguh
-          Langkah-langkah struktural/nonstruktural
-          Manajemen resiko bencana
-          Partisipasi
Adaptasi diperlukan untuk mengurangi dampak negatif dari bencana. Berikut contoh adaptasi dalam berbagai bidang kehidupan manusia:
-          Adaptasi dalam bidang ekonomi
-          Adaptasi dalam bidang kesehatan
-          Adaptasi dalam ketersediaan air
-          Adaptasi terhadap wilayah perkotaan yang sering dilanda banjir
3.      Usaha Pengurangan Resiko Bencana Alam
Usaha pengurangan resiko bencana alam di Indonesia dapat dilakukan dengan cara:
1.      Pembuatan peta risiko bencana
Pengenalan dan pengkajian ancaman bencana atau suatu wilayah berangkat dari pemahaman terhadap kondisi dan karakteristik suatu wilayah, baik dari segi fisik maupun sosial. Proses kajian ini dilakukan oleh berbagai ahli dengan berbagai bidang ilmu kemudian digabungkan dan dianalisis dengan menggunakan pendekatan geografi. Hasil akhirnya adalah peta-peta yang menggambarkan karakteristik suatu wilayah dari berbagai aspek.
Penggambaran resiko bencana yang terdapat di suatu wilayah dilakukan dengan membuat peta resiko bencana. Secara umum, peta ini menggambarkan tingkat resiko terjadinya suatu bencana tertentu di suatu wilayah. Peta ancaman bencana dibuat berdasarkan beberapa indikator, antara lain sebagai berikut:
-          Zonasi wilayah rawan gempa bumi
-          Arus laut
-          Perkitaan ketinggian genangan tsunami
-          Zonasi wilayah rawan banjir
-          Zonasi wilayah rawan longsor
-          Zonasi wilayah terkena dampak letusan gunung api
-          Penggunaan lahan dan vegetasi
-          Bentuk medan dan kelerengan
-          Jenis hutan
-          Jenis tanah
-          Tipe iklim dan curah hujan tahunan
Peta kerentanan dibuat berdasarkan beberapa indikator yaitu:
-          Kepadatan penduduk
-          Rasio jenis kelamin
-          Tingkat kemiskinan
-          Jumlah difabel
-          Rasio kelompok umur
-          Luas lahan produktif
-          Kontribusi pendapatan domestik regional bruto (PDRB)
-          Jumlah bangunan, fasilitas umum, dan fasilitas darurat
-          Kepadatan bangunan
-          Jenis vegetasi
2.    Sistem peringatan dini bencana alam
UNISDR mendefinisikan sistem peringatan dini adalah sekumpulan kapasitas yang dibutuhkan untuk mengumpulkan dan menyebarluaskan informasi peringatan yang bermakna dan tepat waktu sehingga memungkinkan individu, masyarakat dan organisasi yang terancam bencana  untuk bersiap dan bertindak dengan tepat dalam waktu yang cukup untuk mengurangi kemungkinan bahaya atau kerugian.
Konsep sistem peringatan dini terdiri dari empat unsur yaitu:
a.       pengetahuan tentang resiko bencana
b.      layanan pengawasan dan peringatan
c.       penyebaran informasi dan komunikasi
d.      kemampuan merespon
Langkah mitigasi sesudah bencana meliputi hal-hal sebagai berikut:
a.       menginventarisasi data-data kerusakan akibat bencana dan kekuatan bencana yang terjadi
b.       mengidentifikasi wilayah-wilayah yang terkena dampak bencana berdasarkan tingkat kerusakan
c.       membuat rekomendasi dan saran untuk penanggulangan bencana pada masa depan
d.      membuat rencana penataan ulang wilayah, termasuk rencana tata ruang dan penggunaan lahan
e.       memperbaiki dan mengganti fasilitas pemantauan bencana yang rusak
f.       melanjutkan aktivitas pemantauan rutin dan simulasi tanggap bencana
3.      Simulasi bencana alam
Simulasi bencana adalah kegiatan pemberian informasi tentang cara-cara tentang penyelamatan diri kepada masyarakat oleh petugas/instansi terkait pada wilayah rawan bencana dan/atau disertai simulasi penyelamatan untuk mencegah atau meminimalkan dampak bencana alam yang mungkin terjadi. Kegiatan ini idealnya diikuti oleh seluruh anggota masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses mitigasi dan penanggulangan bencana.
Salah satu tujuan utama dari pelaksanaan simulasi bencana adalah menguji kesiapan seluruh sistem, prosedur, dan perangkat mitigasi serta penangulangan bencana.
SILAHKAN DOWNLOAD PPT DISINI

Sunday, 24 May 2015

cara posting file ijasah



Cara upload ijasah
Banyaknya pertanyaan adik-adik kita tentang masalah satu ini, membuat saya sedikit tergelitik dan bergumam “brow sist, 4 tahun kuliah kamu pakai apa?”.
Berikut contoh pertanyaannya:



kan lucu pertanyaannya “ass, kak mau nanya kalo upload transkrip nilai itu di ksi timbale balik atau kasi 2 lembar?” hehehe, memang bias yah, file itu di timbal balikkan?
Belum lagi jawaban-jawaban yang komentar yang begitu mengiris hati.
Silahkan lihat sendiri gambar di atas, ditambah saya datang mengacau (kaharman ibo), tahu kah kita esensi pertanyaan adinda ini?
Yah “kak ganteng, bagaimana caranya upload ijasah? “. Jadi yang dia minta dari scan, masukkan ke word. Save pdf,dan upload. Ok langsung saja. Caranya
1.       Scan ijasahnya (500dpi)
Halaman depan
Halaman depan
Halaman belakang




2.       MASUKKAN KE DALAM MICROSOFT OFFICE WORD
3.       SAVE AS KE PDF.
Kalau di ms word anda tidak ada opsi save as pdf nya, bisa gunakan aplikasi adobe raider atau nitro raider

Monday, 18 May 2015

PERNAH KAH KAU BERFIKIR “AKU SEMAKIN KOLOT DI ASRAMA PPG INI?



Berawal dari perbincangan yang tidak santai dilantai dasar, setelah menelpon ke rumah dan otak ini dipenuhi dengan masalah rasa ketidak adilan kebijakan seorang ayah. Seakan saya mau teriak, kadang ingin mengeluarkan kata-kata yang tidak etis “an…..ng” “su……..a”. ditambah dengan tugas perangkat pembelajaran yang menungguku di lantai 3, kamar 307.
Lingkungan apa ini?, dikelilingi dengan jeruji-jeruji besi, lingkungan yang begitu sempit diawasi dengan 3 satpam dan kurang lebih 20 cctv, absen sidik jari (pinjer, pinger, pinter, printer, pokoknya itulah, yg Cuma tahu dua kalimat “thank you” atau “please try again” kadang saya membayangkan diakhir kalimat itu ada sedikit desahan “aaaahhhhhh” dari suara wanita itu),belum lagi bunyi fire alarm di saat pagi, dan waktu makan (dan bagaimana jika ada kebakaran lalu fire alarm ini berbunyi kemudian guru2 ppg ini turun ke kantin dengan rantang unik dan botol masing-masing)
belum lagi antrian disaat makan, yang alurnya sudah saya hafal luar kepala (piring ke sendok ke nasi ke sayur ke lauk1 ke lauk 2 dan terakhir sambal kalau belum habis)
dan tentunya saya juga sudah hafal pasangan menunya, misalnya kalau breakfast(terong = semur tahu),(bihung=sambal tempe campur ampela ayam),(soto banjar=telur),(sop kol=tumis tempe tahu),(nasi goreng,timun,telur ceplok), lunch/dinner (ikan bolu goreng=sayur santan labu kacang panjang),(ayam sambal kecap/kering=sop kol,wortel,kentang)(sayur bening=ikan bakar sambal dabu), dan beberapa hasil penelitian teman misalnya kesimpulan
“jika siang=ikan maka malam=ayam hukum berlaku kebalikan”
“telur lebih duluan dari pada ayam, karena telur biasanya datang pada saat sarapan, dan ayam selalu datang siang atau malam”
Aghhh,, ini serasa film sainsfiksi yang dikeluarkan hollywood
ditambah animo ketakutan akan penilaian-penilaian yang akan menentukan kesuksesan kita pada akhirnya, peer assestment, penilaian pamong, apalah-apalah. Bahkan sebelum Gong berbunyi dan instrument penilaian ditangan, sudah banyak teman menilai dengan standar penilaian masing-masing, dan jujur aku sudah melakukan hal sama, menilai teman dengan standar penilaianku sendiri.
Jujur pernah aku berfikir “AKU SEMAKIN KOLOT DENGAN LINGKUNGAN SEMPIT INI ?”,dan saya yakin bukan Cuma saya pastinya merasakan hal yang sama. Dipenjarakan dengan aturan-aturan, dengan jeruji-jeruji besi, dengan absen fingerspot, dengan perangkat pebelajaran (rpp-bahan ajar-media-lkpd-evaluasi-presentasi-bantai-perbaikan-peerteaching), dengan kegiatan asrama (silabus-sains-english day-seni-kerja bakti), bahkan aku merasa terpenjara dengan wajah-wajah yang itu-itu saja aku temui tiap hari, (ditempat makan, ditangga, dikamar mandi,dipete-pete, ruang workshop) wajah itu semakin meruncing ke satu titik kata “GURU”.
Yah… itu dia, GURU adalah cita-cita sebagian besar masyarakat kecil ini, “SELESAI INI, AKU AKAN JADI GURU”, dan jujur saya memaksakan diri untuk mengatakan hal yang sama dengan redaksi bahasa lain “YA SUDAH LAH, MUNGKIN JADI GURU MEMANG TAKDIRKU”. Wajar saja, karena sejak orientasi, kita memang diorientasikan menjadi guru professional. Dan jujur tanpa aku sadari hal itu menyempitkan pemikiranku dan meng”IYA”kan bahwa PPG sm3t=Guru atau mati. 3 bulan PPG SM3T ini aku lalui, dan tantangan terberat bukan pada penjara-penjara tadi, tapi ada rasa mengganjal “wah…., saya ikut PPG ini, artinya memang saya sudah patok diriku untuk menjadi guru, setelah ini saya akan mendaftar cpns guru jalur umum, atau mungkin ikut lagi program GGD bagaimana jika tak lulus keduanya?” hanya itu PPG-jadi guru- mati-mengharap amal jariah (kalau mendidiknya dengan hati, bagaimana jika hanya dengan GAJI).
Hingga pada suatu malam aku bertemu dengan seorang teman sebut saja FS, dengan bahasa sederhananya “bagaimana kalau kita sedikit keluar dari pola fikir tentang orientasi PPG ini?, misalnya dari PPG ini kita dapat pelajaran bagaimana mengatur keluarga kita kelak, atau dari PPG kita bisa mendapatkan calon keluarga kita he…he…he…he….(sambil senyum), atau bisa jadi kelak relasi bisnis kita dari teman-teman PPG mereka kan cerdas-cerdas dan sudah pasti siap diajak kerja sama, bagaimana kalau waktu setahun ini kita gunakan untuk mengevaluasi masa lalu dan merancang ulang bangunan masa depan kita yang belum sempurna? Bagaimana jika ini memang sudah tertulis di lauhun mahfuz dan sudah merupakan rencana terindah dari Sang Sutradara yang MAHA HEBAT. Jalani maki saja, dan maksimalkan prosesnya, totalitas ji dibutuhkan. Just do it without ngeluh-ngeluh,, hahahaha…..
Jadi PPG bukan hanya tentang jadi GURU dan iming-iming tunjangan PROFESIONAL, ini tentang kwalitas hidup teman. Kita dibatasi dengan lingkungan, diawasi dengan cctv, dinilai oleh masyarakat kecil, pola tidur dan makan diatur, bukan berarti kebebasan kita dipenjarakan tapi bagaimana kita menyikapi LINGKUNGAN KECIL INI sebelum kelak kita berada di LINGKUNGAN BESAR DENGAN MASYARAKAT LUAS.
Bebaskan fikiran kita, karena  fikiran tak akan mampu dipenjarakan

PPG ≠ HANYA GURU
PPG = GURU PROFESIONAL + KWALITAS HIDUP LAINNYA

 (mohon masukan, lagi belajar nulis….)