Thursday, 8 September 2016

AYAH, MAAFKAN ANAKMU

Masih jelas dalam ingatanku ketika Ayah dengan bangganya mengatakan “ini cukur polisi” atau “ ini cukur tentara” , pernah juga ketika berkunjung ke kampung nenek (Kamiri, desa yang terletak di kaki gunung Tille perbatasan barru-soppeng) ayah menggendongku menelusuri Jalan kampung  sambil berucap “kalau kamu besar perbaiki jalan ini, jadilah kepala proyek”. Begitu banyak cita-cita yang ayah tanamkan dimasa kecilku hingga saat ini.

Begitu banyak pengorbananmu, masih ku ingat piano yang ayah belikan di Pasar agar aku tahu memainkan musikdan berhenti mai game “BEGO LOO….”, pun surprise sepeda SUBARU  agar aku bisa bermain balap-balapan sepulang sekolah, dan juga menepati janjimu membawaku ke LEJJA (permandian air panas soppeng) setelah aku selesai hatam Qur’an bersama Guru Ngajiku dan teman-teman ngaji. Terima kasih kuhaturkan telah menyekolahkanku di pesantren DDI Mangkoso agar aku faham sedikit tentang Agama, SMA di kelas Unggulan PEMDA Luwu Utara, Hingga menyelesaikan Strata satu di Jurusan Geografi Universitas Negeri Makassar pada tahun 2012. Aku sadar betul, karena aku ayah lambat menunaikan Rukun Islam yang ke lima, karena aku rumah Ayah belum selesai sampai sekarang.  Tidak ada yang dapat kubalaskan selain terima kasih dan Akhlak baik. Aku sadar betul sebagai anak laki-lakimu satu-satunya harus kuat untuk menjaga tongkat stafet kokohnya keluarga kita.
Berawal dari keikut sertaanku dalam program SM3T, aku tidak berharap banyak dari program ini selain wisata, tunjangan lumayan, dan iming-iming PPGnya yang full Beasiswa. Kupersiapkan segalanya sebelum berangkat ke lokasi, kamera, handycam, harddisk, buku catatan perjalanan karena aku yakin ini bakal seru sebagai petualang muda yang belum memiliki tanggungan keluarga.  Hingga tiba di lokasi menyadarkanku bahwa begitu banyak anak-anak tidak sebahagia masa kecilku, mereka tidak mengenal TV, game elektronik, sepeda, piano, bahkan mungkin semua yang ayah pernah belikan saat aku seumuran mereka.

Ayah, mereka hidup dengan keterbatasan. Tidak ada baju dan buku baru di tahun ajaran baru. Tidak ada TV dan game elektronik, pu tak ada sepeda. Sepulang sekolah mereka harus membantu orang tuanya tangkap ikan, peras sagu, mencari kayu bakar di hutan. Bahkan beberapa diantara mereka harus ijin beberapa hari disekolah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya dengan membuat kopra di pulau seberang. Ayah, mereka juga punya cita-cita seperti yang ayah ajarkan padaku. Heriyanto, Lono, Linus, karsa, Suci, Asrianti, Hany Ingin lanjut kuliah, Pedro yang ingin mengembangkan desanya jadi desa wisata, Rigo dan Diego Armando ingin jago bahasa Inggris dan menjadi pemandu wisata, esra yang ingin menjadi anggota dewan, maria ingin jadi bidan. Namun Ayah , mereka sedikit ragu dengan cita-cita mereka.
Ayah, maafkan anakmu memilih jalan ini. Menjadi Guru Garis Depan bukanlah hal manis. Bisa jadi tempatku nanti aksesnya  sulit, jaringan komunikasi tidak ada, tidak ada kemewahan disana seperti di kota, pun tak bisa ku janjikan gaji yang banyak. Jangan iri terhadap teman-temanku yang hidup berkelimpahan, atau anak tetangga yang tiap hari bisa mengantar ibunya ke pesta. Yang ku lakukan hanyalah PENGABDIAN kepada Negeri yang   katanya sudah MERDEKA ini. Bukankah ayah pernah mengajarkanku “khairunnas yangfauhul linnas” ,–sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat sesamanya- . Ayah, Doakan anakmu agar niat tulus ini bisa tercapai menjadi pendidik  di pelosok sana, suatu hari nanti jika siswaku sukses, beberapa dari mereka lanjut kuliah, menjadi polisi atau tentara, menjadi dokter, aku akan ceritakan padamu dengan sedikit bangga bahwa dia pernah ku didik. Ayah, semoga niatan ini menjadi Amal jariyah untukku, untuk Ayah dan ibu. Bukankah dunia ini hanya sementara, dan kita butuh ladang pahala untuk kehidupan yang lebih abadi nanti, biarkanlah anakmu menanam di ladang ini untuk kehidupan abadi kita kelak.

AYAH DOAKAN ANAKMU, SEMOGA NIATAN TULUS MENGABDI INI, DI IJABAH OLEH SANG PEMILIK KEHENDAK, AMIN..

UNTUK
AYAHKU
DAN

AYAH SAUDARA-SAUDARAKU PEJUANG PENDIDIKAN

#gurugarisdepan
#indonesia
#pendidikan