Sunday, 24 May 2015

cara posting file ijasah



Cara upload ijasah
Banyaknya pertanyaan adik-adik kita tentang masalah satu ini, membuat saya sedikit tergelitik dan bergumam “brow sist, 4 tahun kuliah kamu pakai apa?”.
Berikut contoh pertanyaannya:



kan lucu pertanyaannya “ass, kak mau nanya kalo upload transkrip nilai itu di ksi timbale balik atau kasi 2 lembar?” hehehe, memang bias yah, file itu di timbal balikkan?
Belum lagi jawaban-jawaban yang komentar yang begitu mengiris hati.
Silahkan lihat sendiri gambar di atas, ditambah saya datang mengacau (kaharman ibo), tahu kah kita esensi pertanyaan adinda ini?
Yah “kak ganteng, bagaimana caranya upload ijasah? “. Jadi yang dia minta dari scan, masukkan ke word. Save pdf,dan upload. Ok langsung saja. Caranya
1.       Scan ijasahnya (500dpi)
Halaman depan
Halaman depan
Halaman belakang




2.       MASUKKAN KE DALAM MICROSOFT OFFICE WORD
3.       SAVE AS KE PDF.
Kalau di ms word anda tidak ada opsi save as pdf nya, bisa gunakan aplikasi adobe raider atau nitro raider

Monday, 18 May 2015

PERNAH KAH KAU BERFIKIR “AKU SEMAKIN KOLOT DI ASRAMA PPG INI?



Berawal dari perbincangan yang tidak santai dilantai dasar, setelah menelpon ke rumah dan otak ini dipenuhi dengan masalah rasa ketidak adilan kebijakan seorang ayah. Seakan saya mau teriak, kadang ingin mengeluarkan kata-kata yang tidak etis “an…..ng” “su……..a”. ditambah dengan tugas perangkat pembelajaran yang menungguku di lantai 3, kamar 307.
Lingkungan apa ini?, dikelilingi dengan jeruji-jeruji besi, lingkungan yang begitu sempit diawasi dengan 3 satpam dan kurang lebih 20 cctv, absen sidik jari (pinjer, pinger, pinter, printer, pokoknya itulah, yg Cuma tahu dua kalimat “thank you” atau “please try again” kadang saya membayangkan diakhir kalimat itu ada sedikit desahan “aaaahhhhhh” dari suara wanita itu),belum lagi bunyi fire alarm di saat pagi, dan waktu makan (dan bagaimana jika ada kebakaran lalu fire alarm ini berbunyi kemudian guru2 ppg ini turun ke kantin dengan rantang unik dan botol masing-masing)
belum lagi antrian disaat makan, yang alurnya sudah saya hafal luar kepala (piring ke sendok ke nasi ke sayur ke lauk1 ke lauk 2 dan terakhir sambal kalau belum habis)
dan tentunya saya juga sudah hafal pasangan menunya, misalnya kalau breakfast(terong = semur tahu),(bihung=sambal tempe campur ampela ayam),(soto banjar=telur),(sop kol=tumis tempe tahu),(nasi goreng,timun,telur ceplok), lunch/dinner (ikan bolu goreng=sayur santan labu kacang panjang),(ayam sambal kecap/kering=sop kol,wortel,kentang)(sayur bening=ikan bakar sambal dabu), dan beberapa hasil penelitian teman misalnya kesimpulan
“jika siang=ikan maka malam=ayam hukum berlaku kebalikan”
“telur lebih duluan dari pada ayam, karena telur biasanya datang pada saat sarapan, dan ayam selalu datang siang atau malam”
Aghhh,, ini serasa film sainsfiksi yang dikeluarkan hollywood
ditambah animo ketakutan akan penilaian-penilaian yang akan menentukan kesuksesan kita pada akhirnya, peer assestment, penilaian pamong, apalah-apalah. Bahkan sebelum Gong berbunyi dan instrument penilaian ditangan, sudah banyak teman menilai dengan standar penilaian masing-masing, dan jujur aku sudah melakukan hal sama, menilai teman dengan standar penilaianku sendiri.
Jujur pernah aku berfikir “AKU SEMAKIN KOLOT DENGAN LINGKUNGAN SEMPIT INI ?”,dan saya yakin bukan Cuma saya pastinya merasakan hal yang sama. Dipenjarakan dengan aturan-aturan, dengan jeruji-jeruji besi, dengan absen fingerspot, dengan perangkat pebelajaran (rpp-bahan ajar-media-lkpd-evaluasi-presentasi-bantai-perbaikan-peerteaching), dengan kegiatan asrama (silabus-sains-english day-seni-kerja bakti), bahkan aku merasa terpenjara dengan wajah-wajah yang itu-itu saja aku temui tiap hari, (ditempat makan, ditangga, dikamar mandi,dipete-pete, ruang workshop) wajah itu semakin meruncing ke satu titik kata “GURU”.
Yah… itu dia, GURU adalah cita-cita sebagian besar masyarakat kecil ini, “SELESAI INI, AKU AKAN JADI GURU”, dan jujur saya memaksakan diri untuk mengatakan hal yang sama dengan redaksi bahasa lain “YA SUDAH LAH, MUNGKIN JADI GURU MEMANG TAKDIRKU”. Wajar saja, karena sejak orientasi, kita memang diorientasikan menjadi guru professional. Dan jujur tanpa aku sadari hal itu menyempitkan pemikiranku dan meng”IYA”kan bahwa PPG sm3t=Guru atau mati. 3 bulan PPG SM3T ini aku lalui, dan tantangan terberat bukan pada penjara-penjara tadi, tapi ada rasa mengganjal “wah…., saya ikut PPG ini, artinya memang saya sudah patok diriku untuk menjadi guru, setelah ini saya akan mendaftar cpns guru jalur umum, atau mungkin ikut lagi program GGD bagaimana jika tak lulus keduanya?” hanya itu PPG-jadi guru- mati-mengharap amal jariah (kalau mendidiknya dengan hati, bagaimana jika hanya dengan GAJI).
Hingga pada suatu malam aku bertemu dengan seorang teman sebut saja FS, dengan bahasa sederhananya “bagaimana kalau kita sedikit keluar dari pola fikir tentang orientasi PPG ini?, misalnya dari PPG ini kita dapat pelajaran bagaimana mengatur keluarga kita kelak, atau dari PPG kita bisa mendapatkan calon keluarga kita he…he…he…he….(sambil senyum), atau bisa jadi kelak relasi bisnis kita dari teman-teman PPG mereka kan cerdas-cerdas dan sudah pasti siap diajak kerja sama, bagaimana kalau waktu setahun ini kita gunakan untuk mengevaluasi masa lalu dan merancang ulang bangunan masa depan kita yang belum sempurna? Bagaimana jika ini memang sudah tertulis di lauhun mahfuz dan sudah merupakan rencana terindah dari Sang Sutradara yang MAHA HEBAT. Jalani maki saja, dan maksimalkan prosesnya, totalitas ji dibutuhkan. Just do it without ngeluh-ngeluh,, hahahaha…..
Jadi PPG bukan hanya tentang jadi GURU dan iming-iming tunjangan PROFESIONAL, ini tentang kwalitas hidup teman. Kita dibatasi dengan lingkungan, diawasi dengan cctv, dinilai oleh masyarakat kecil, pola tidur dan makan diatur, bukan berarti kebebasan kita dipenjarakan tapi bagaimana kita menyikapi LINGKUNGAN KECIL INI sebelum kelak kita berada di LINGKUNGAN BESAR DENGAN MASYARAKAT LUAS.
Bebaskan fikiran kita, karena  fikiran tak akan mampu dipenjarakan

PPG ≠ HANYA GURU
PPG = GURU PROFESIONAL + KWALITAS HIDUP LAINNYA

 (mohon masukan, lagi belajar nulis….)

Monday, 27 April 2015

MARNIKS REFLEKSI SISWAKU (siswa pertama yang aku kenal)



Setelah istirahat 2 hari, sejak kedatangan ku hari sabtu, 19 oktober 2013. Senin 21 oktober adalah hari pertamaku masuk mengajar ke kelas. Pagi-pagi aku sudah mempersiapkan segalanya, menimbah air, mandi, masak, sarapan. Pagi ini aku memilih kostum hitam putih ditambah almamater kebanggaanku (jaket sm3t hitam). Kulangkahkan kaki menuju ke halaman sekolah, sepi sangat, hanya beberapa siswa dengan seragam lusuh menyapu ruang kantor dan halamannya. Saya tidak tahu berbuat apa-apa. Gedung sekolah permanen, kursi dan meja lebih banyak dari siswanya. Guru, iyaahhh,,, siapa guru yang mengajar selama ini gumamku. Sedikit aku beranikan diri bertanya kepada siswa yg sedang menyapu daun bunga kertas yang berguguran d halaman kantor sekolah. “Adek, Guru lain mana?” tanyaku tanpa menyapanya lebih awal, “eeeeemmmm belum datang pak Guru,Pak kepsek masih dirumahnya” jawabnya setelah berhenti menyapu dan menyilangkan tanganx didepan.
Setelah menunggu beberapa menit, pak kepsek datang dengan rotan sebesar jempol kaki. “apel….  Apel…….” Teriaknya sambil mengayung-ayungkan senjata rotannya. Serentak anak-anak berbaris, “siap eigggg, lanjang depan eigggg… tegap eigggg…..” bag tentara semangatnya. Pak kepsek menyeruhkan posisi istirahat, point demi point disampaikan dan aku bisa menarik kesimpulan bahwa hari ini adalah pertama efektif sekolah.
Lalu ada apa dengan marniks?...
Marniks, salah satu siswa kelas 3/XII  yang akan tamat tahun ini. Cambangnya yang brewok, jarang senyum. Hari itu aku menerapkan model CBSA (Catat buku sampai habis), aku mendikte di depan siswa sementara siswa menulis apa yang aku bacakan, beberapa diantara mereka menggunakan buku baru. Marniks dengan buku lusuhnya dan pulpen yang menari-nari diatasnya rupanya bersandiwara. Dia berpura-pura menulis, sangat serius bahkan sesekali mengulang apa yang kudiktekan. “bagian bagian peta adalahhhh…..”, seakan-akan dia lambat menulis. aku menghampirinya, bukunya masih kosong, tak satupun kalimat bahkan kata yang ada disana. “kamu, kenapa tidak menulis ?”   marniks hanya diam. “namamu siapa?” marniks masih diam. Saya memperhatikannya, takut juga rasanya dengan siswa ini, badan besar, cambang brewok, diajak bicara hanya diam, mata menyala dan badannya lebih besar. Jujur saja aku takut, dan sudah pasti seandainya dia menghantam saya, kiri berarti rumah sakit kana berarti kuburan.
Aku pura-pura lupa dengan kejadian tadi, kulanjutkan mendikte siswa ku. Tanpa melirik marniks (apalagi menatap matanya).baris demi baris aku bacakan, sambil berjalan ke setiap sudut kelas, 1hal yang saya sadari, bukan Cuma marniks yang tidak menulis, Sedikit aku curiga, “ada apa ini?....” . Di sesi terakhir aku membagikan kertas hvs ke siswa ku, mencoba mencari informasi sedikit lebih dalam dari mereka, aku menyuruhnya menuliskan biodata nama, tanggal lahir, cita-cita, dan sebagainya. lagi-lagi hanya beberapa siswa yang mengerjakannya. Entah karena apa, hanya guru-guru sm3t lah yang mampu menjawabnya.
Di sore hari aku sementara menikmati perbincanganku dengan teman guru, Pak Jono (bukan orang jawa) nama lengkapnya sujono pither. Guru bahasa Indonesia, keturunan toraja yang juga mengadu nasib di tanah papua. Tiba-tiba marniks datang dengan noken yang ia gantung dikepalanya, baju lusuh, tanpa sandal, dan keringat yang membasahi bajunya, Meletakkan nokennya di depan pintu. ”Slamat Sore Pak Guru …” sapanya,” sore marniks…. “ begitu sapa Pak Jono sambil beranjak dari tempat duduk sambil memperhatikan isi noken marniks, akupun senyum ngangguk ke marniks (masih teringat kejadian pagi tadi di ruang kelasnya). Marniks, dengan sedikit gugup, nada suara sangat rendah, mulai membuka pembicaraan, “ini Pak Guru, saya ada bawa sayur ini, Buah, dan ikan asar untuk pak guru dorang, ini saya mo minta maaf ke pak guru kahar, karena tadi pagi saya tidak mencatat, Pak Guru Maafkan kah….!” Kemudian marniks sedikit mengangkat kepalanya “Pak Guru, Besok-besok saya mo belajar catat buku” . aku hanya tersenyum dan mengajak marniks masuk rumah, tapi marniks menolak dengan alasan badannya masih belum bersih dari kebun. “Kalo begitu nanti malam ko datang kesini” sambil memegang tangannya. Dia pun pamit untuk pulang mandi
Sejak saat itu, marniks selalu datang lebih awal, singgah di rumah dinasku meminta kunci kantor, bendera, terkadang ia meminta air minum segelas sekedar membasahi tenggorokannya. Kadang diacara kampung, saya selalu dengan marniks. MARNIKS ADALAH REFLEKSI SISWA-SISWAKU