Tuesday, 30 August 2016

GURU THOMPSON DAN SISWA TEDDY

Dapat dari grup WA, setelah search di google ternyata sudah banyak yang sharing bahkan sudah ada shortfilmnya di youtube

Smoga memberi inspirasi:

Bu Thompson, seorang guru kelas 5 SD berdiri di depan kelas dan mengatakan kepada para muridnya, “Anak-anak, ibu mencintai kalian semua”. Padahal dalam hatinya dia tidak menyukai seorang murid yang bernama Teddy Stoddard. Karena, pakaian Teddy selalu kotor, daya dan kemampuannya menguasai pelajaran sangat lambat, penilaian ini dari pengamatannya selama hampir satu tahun. Teddy suka menyendiri, tidak suka bermain dengan kawan-kawannya, tapi kenapa pakaiannya selalu kotor, seperti tidak pernah dicuci.
Teddy tidak seperti anak-anak lainnya, sampai-sampai bu Thomson ketika memeriksa PR si Teddy tidak perlu membaca lagi, sambil menutup mata bisa mencoretnya dengan pulpen merah “X”, dan memberi nilai Nol besar, karena semuanya salah.
Suatu hari, bu Thompson diminta oleh kepala sekolah untuk membaca file-file para murid kelas 5 mulai dari mereka kelas 1, ketika dia membaca file Teddy, bu Thompson terkejut.
Wali kelas 1 menulis catatan, “ Teddy Stoddard adalah murid yang rajin, talented dan selalu mengerjakan tugas dengan baik”.
Wali kelas 2 menulis catatan, “ Teddy Stoddard adalah murid yang baik, rajin dan dicintai oleh teman-temannya di kelas. Cuma Teddy sedikit terganggu karena ibunya terkena penyakit kanker”.
Wali kelas 3 menulis catatan, “ Kematian ibunya, berdampak negatif kepada kepribadian Teddy. Teddy sudah berusaha keras untuk bangkit, namun sepertinya ayahnya tidak memberikan perhatian khusus”.
Wali kelas 4 menulis catatan, “ Teddy murid yang malas, tidak suka bergaul dengan kawan-kawan sekelasnya dan sering tidur waktu pelajaran”.
Ibu Thompson merasa sedih karena selama ini salah menilai Teddy.
Beberapa hari kemudian, ketika bu Thompson ulang tahun, semua murid membawa hadiah dan kado yang dibungkus rapi dengan pita merah jambu, kecuali Teddy yang hanya membawa hadiah yang dibungkus dengan koran dan dimasukkan ke dalam plastik biasa.
Bu Thompson membukanya dan…”For miss Thompson, from Teddy Stoddard. Happy Birthday and Thank you for another school year”. Isinya tidak lain adalah sebuah gelang rantai lama dan sebuah botol parfum yang isinya cuma tinggal sepertiga.
Melihat itu, bu Thompson merasa sedih dan para murid tertawa, seketika kelas ribut dengan tertawaan para murid, kecuali Teddy yang duduk di belakang menunduk sambil menyembunyikan mukanya yang sudah memerah di balik tas tuanya. Tapi, tiba-tiba semuanya diam ketika bu Thompson mengatakan terimakasih dan memakai gelang tersebut serta menyemprotkan sedikit parfum ke tangannya, “ Parfumnya wangi sekali, terimakasih Teddy”.
Setelah jam belajar selesai, Teddy tidak langsung pulang, dia menunggu bu Thompson keluar dari kantor guru. “Wangi bu Thompson seperti wangi ibuku”, kata Teddy, dan meninggalkan bu Thompson.
Mendengar itu, tanpa sadar air mata bu Thompson menetes, karena parfum yang diberikan oleh Teddy adalah sisa parfum almarhumah ibunya.
Setelah itu, bu Thompson memberikan perhatian lebih kepada Teddy. Teddy pun mulai berubah dan kecerdasan lamanya muncul kembali. Akhir tahun ketika kenaikan kelas 6, Teddy mendapatkan nilai terbaik di kelasnya.
Ketika bu Thompson kembali ke ruangannya di kantor guru, secarik kertas tertempel di pintu, “anda adalah guru terbaik yang pernah saya temui. By Teddy”. Bu Thompson mengatakan dalam hatinya, “kamulah yang mengajarkan saya bagaimana menjadi guru yang baik”.
Beberapa tahun kemudian, bu Thompson menerima undangan dari sebuah universitas untuk menghadiri wisuda mahasiswa fakultas kedokteran, tertulis di balik amplop “ Dari anakmu, Teddy”. Bahagia bercampur haru memenuhi hati bu Thompson ketika membaca surat itu.
Pada hari wisuda, bu Thompson datang ke acara wisuda dengan memakai gelang dan parfum yang diberikan Teddy. Sampai disana, bu Thompson duduk di bangku orangtua mahasiswa Teddy Stoddard. Selain ibu, ayah Teddy juga meninggal beberapa tahun setelah kematian ibunya.
Note:
1. Pelajaran bagus buat guru, murid itu bukan mesin, tapi mereka butuh keikhlasan dan kasih sayang dari guru. Benar kata kyai Gontor, “ Perbaiki Metode mengajar"