Sunday, 2 October 2016

Guru Garis Depan, Bukan Guru Biasa…!


Oleh: Mahmud

Sederet proses pemantasan diri melalui pengalaman pengabdian di ujung Negeri dan Pendidikan Profesi Guru (PPG) telah dilalui secara runtut dan seksama sebelum akhirnya terpilih menjadi bagian dari pencetak Generasi Emas Bangsa lewat gerbang yang begitu sakral “ Guru Garis Depan”. Menjadi Guru Garis Depan adalah sebuah pilihan hidup, pilihan agar tetap mempunyai ruang pengabdian, ruang untuk berbagi, ruang untuk peduli dan ruang untuk menjaga semangat pendidikan tetap berkobar di Negara kita tercinta. Sebab hakikat hidup ialah untuk berbagi, bukan berbagi untuk hidup. Dan, sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi sesama manusia (Khairunnas Anfauhum Linnas. Hadits)



Dengan semangat pengabdian yang telah ditempah oleh ragam tantangan, atas dasar pertimbangan keberlangsungan pendidikan yang berkemajuan dan berakhlak mulia, oleh calon Guru Garis Depan disusunlah kerangka acuan pelaksanaan program sebelum akhirnya telah benar-benar menjadi pengabdi yang sesungguhnya. Program-program tersebut disusun sebagai bagian dari upaya untuk membumikan pendidikan yang berkemajuan, pendidikan yang menginspirasi dan pendidikan yang melahirkan generasi yang berakhlak mulia dan berwawasan global. Bukankah kejayaan Bangsa kita di masa mendatang sebagian besar ditentukan oleh karakter Generasi Muda saat ini….?



Mendidik di daerah 3T, jauh dari keluarga dan sendi-sendi kemewahan ialah tantangan utama ketika menjadi Guru Garis Depan, sehingga semangat kebersamaan dan marwah pengabdian harus tetap terjaga lewat penguatan internal peserta GGD.

(Program Penguatan Internal GGD)
            Peserta didik merupakan objek utama dalam upaya penyiapan generasi emas Indonesia oleh peserta GGD, sehingga semangat mereka untuk menuntut ilmu dan berakhlak mulia harus tetap lestari.

(Program Pengembangan Peserta Didik "Mengedukasi Anak Negeri")
Upaya peningkatan mutu pendidikan oleh peserta GGD nantinya tidak akan lepas dari dukungan yang berkesinambungan dari masyarakat setempat. Peserta GGD secara tidak langsung harus mampu menjaga hubungan yang baik dengan masyarakat, beradaptasi dengan budaya setempat dan berupaya menjadi poros peningkatan tarap hidup mereka.

(Program Pengembangan Masyarakat)
Guru Garis Depan memaknai PENGABDIAN tidak hanya sekadar mendidik anak negeri, akan tetapi semangat untuk berbagi dan peduli pada kemajuan pendidikan di daerah 3T melalui uluran tali kasih adalah bagian dari makna pengabdian yang sesungguhnya.
(Program GGD Peduli)
Semoga kumpulan gagasan-gagasan kecil kami ini dapat menjadi pembuka inspirasi , penggerak jiwa, dan penjaga marwah pengabdian kita  menuju terciptanya Generasi Emas Indonesia. Mari  tetap semangat, saling menguatkan dan befikir positif sembari tak berhenti meluangkan waktu untuk tetap memikirkan kelangsungan Pendidikan Indonesia yang berkemajuan dan berakhlak mulia.

Akhir kata, saya ingin mengutip hadits pertama dalam kitab "Hadits Arbain" (Kumpulan 40 hadits sahih) sebagai berikut:

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya:
Dari Umar rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosululloh SAW bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, ϑαπ empat imam Ahli Hadits)

#SALAM PERJUANGAN
Penyunting Akhir:
- Kaharman
- Rapiuddin

Jangan lupa komentar, like dan subscribe dengan meng-klik ikon media sosial di bawah ini...........