Thursday 22 October 2015

INDONESIA MENYAPA

23 Oktober 2015. Kegiatan Indonesia Menyapa
Kemristekdikti bersama Yayasan Masyarakat SM-3T Intitute mengajak alumni SM-3T yang terpilih untuk kembali merasakan suasana pengabdian di lokasi pengabdian SM-3T semula melalui pendampingan kegiatan Indonesia Menyapa. Peserta yang akan didampingi dalam kegiatan ini berasal dari pihak di luar SM-3T.
Peserta yang tergolong sebagai tokoh masyarakat dari berbagai kalangan tersebut akan kita ajak merasakan kehidupan pendidik di daerah sasaran SM-3T selama 5 hari (termasuk lama perjalanan). Kegiatan Indonesia Menyapa ini membutuhkan 10-15 alumni SM-3T yang terpilih untuk menjadi pendamping bagi peserta.
Bagi yang berminat, silahkan mengajukan proposal pengajuan diri menjadi pendamping dengan kerangka proposal berupa;
1) Deskripsi Lokasi Pengabdian SM-3T Anda (Profil Daerah/Demografis/Geografis, Gambaran Akses/Rute yang ditempuh menuju Lokasi, Keunikan Sosial Budaya, Daya Tarik Wisata, Kondisi Keamanan)
2) Biodata Anda (Nama Lengkap, Tempat Tanggal Lahir, Alamat Lengkap, Nomor Hp, Alamat Email, Riwayat Pendidikan, Riwayat Pekerjaan, Pengalaman Organisasi)
3) Lampiran 5 Foto pengalaman terbaik Anda waktu menjadi peserta SM-3T beserta keterangannya, Lampiran 5 Foto Kemenarikan Geografis/Wisata Daerah Pengabdian SM-3T Anda beserta keterangannya)
Kegiatan ini tidak diperuntukkan bagi para alumni yang sementara mengikuti PPG SM-3T atau terikat oleh instansi tertentu (mengingat kegiatan ini berlangsung selama 5 hari, sebagai antisipasi resiko meninggalkan aktivitas wajib Anda)
Perihal biaya Akomodasi, Transportasi dan Konsumsi bagi pendamping ditanggung oleh panitia kegiatan
Silahkan mengirimkan proposal Anda ke alamat email: masyarakatsm3tinstitute@gmail.com dengan judul email 'Proposal Indonesia Menyapa' dengan batas waktu pengiriman sampai tanggal 5 November 2015.
Proposal yang diterima sampai batas waktu tersebut, selanjutnya akan diseleksi oleh Tim Dikti untuk memperoleh 10-15 peserta beserta daerah sasaran yang terpili. MSI

Tuesday 20 October 2015

Antri

Seorang guru di Australia pernah berkata kepada saya

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Saya mengekspresikan keheranan saya, karena yang terjadi di negara kita kan justru sebaliknya.

Inilah jawabanya;

1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.

2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;” jawab guru kebangsaan Australia itu.

1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..

4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.

5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk MENGATASI KEBOSANAN saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)

6. Anak bisa BELAJAR BERSOSIALISASI menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.

7. Anak BELAJAR TABAH dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.

10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia MENYEROBOT ANTRIAN  dan HAK ORANG LAIN.

11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.

12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain

dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”

2. Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.

3. Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.

4. Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.

5. dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga.?

Ah sayang sekali ya.... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementerian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali ya... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral. ?

Ah sayang sekali ya... seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini ?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.

Yuk kita ajari anak kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik,

Yuk kita mulai dari keluarga kita terlebih dahulu, ... mau ?

Salam syukur penuh berkah...

Sunday 4 October 2015

Dapat dari broadcast teman tentang kampus UIT

UIT dikenai sanksi, bisa dilaporkan ke polisi
Ketua tim evaluasi kerja akademik perguruan tinggi kemenrterian riset teknologi dan pendidikan tinggi, Supriadi Rustad, mengatakan Universitas Indonesia Timur (UIT) bisa dilaporkan ke Polisi. Alasannya, Universitas diduga Melakukan Kebohongan Dan merugikan Mahasiswa.” Laporan itu menjadi urusan mereka yang merasa di rugikan,” Kata bapak supriadi Rustad seusai mengunjungi kampus UIT Makassar, Kemarin.
Kementerian Riset Teknologi dan pendidikan tinggi SECARA RESMI MENONAKTIFKAN KEGIATAN PERKULIAHAN UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR. Kampus yang berlokasi Di jalan Rappocini Raya, Makassar, ini di anggap TIDAK LAYAK SEBAGAI PERGURUAN TINGGI. “ Kami datang Meminta Konfirmasi,” Ujar Supriadi Rustad.
Informasi yang diperoleh, Menurut Supriadi, UIT Memiliki Dosen sebanyak 300 Orang.  Sementara ini Mahasiswa sebanyak 20.000 orang, ini lebih banyak ketimbang Jumlah Mahasiswa di Institut Teknologi Bandung ( ITB).“Mahasiswa ITB Sekitar 18 ribu, Tetapi jumlah Dosen Sebanyak 1.200 orang,”. Perbandingan jumlah Dosen di UIT, Menurut Supriadi Rustad, Tidak Imbang. Selain itu manajemen UIT dinilai buruk. Misalnya, Tidak Ada Data Pasti Jumlah Mahasiswa yang Telah di Wisuda. Menurut laporan data Rektorat Mahasiswa diwisudah per juni Tahun ini hampir mencapai 4.000 orang.  Tetapi yang terdeteksi Dipangkalan Data Kementrian haya 922 orang. “KAMI MEMINTA UIT MENYETOP PENERIMAAN MAHASISWA, Menurut Bapak Supriadi Rustad.
Tim Evaluasi kementrian juga memberi tenggang waktu 12 september untuk melengkapi data mahasiswanya. Tidak hanya tahun ini, tetapi juga 2011 hingga 2014.
Tak hanya itu menurut Supriadi Rustad, UIT di duga MEMBOHONGI MASYARAKAT. Didepan kampusnya, di jl.Rappocini, terpasang spanduk bertulisan “mendapat Akreditasi B”
Supriadi Rustad menegaskan inspeksi terhadap kampus yang dinilai abal-abal tidak hanya di makassar. Di jawa pun sudah banyak kampus yang di tolak alumnus. Maka demikian masyarakat diminta berhati-hati memilih kampus.